Friday, June 3, 2011

Emak Sudah Berangkat

Emak meninggal. Kabar itu kuterima kala bergulat bersama huruf, kata, dan rangkaian kalimat di layar flat digital. Malam Jumat pada Kamis, 27 Mei 2011 itu, Emak mengakhiri perziarahannya di dimensi nyata setelah usianya mencatat angka 85 tahun.

Kabar itu bilang, “Emak sudah tiada pukul setengah tujuh malam tadi.” Kini, Emak meneruskan perziarahannya di dimensi lain. Dan, aku sekarang menjadi seorang yatim piatu.

Malam itu pukul sebelas, kupulang kampung untuk menemui Emak. Sudah pasti, aku tak bisa lagi mendengar sapaannya, yang biasa kudengar, kala pulang kampung.

Sudah pasti, aku tak bisa lagi mendengar hembusan nafas emak yang kadang tersekat, jika aku datang mengunjunginya, karena menahan rindu bertemu si bungsu ini. Sudah tentu, aku tak bisa lagi melihat Emak berjalan terhuyung yang ditopang tongkat bambu.

Sepanjang perjalanan pulang, aku mengingat kala indah bersama emak. Ketika dulu, emak yang rajin membangunkan tidur agar pergi menoreh. Ketika emak menjadi alarm hidup yang rajin mengganggu tidur ketika mata malas untuk melihat keindahan pagi. Saat emak berkata, “Kamu harus sekolah. Jangan seperti emak. Jangan malu karena bajunya lusuh. Jangan malu karena bajumu koyak. Yang penting hatimu baik. Yang penting kamu bisa tetap sekolah.”

Aku melawan kantuk sepanjang perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang itu juga berupaya mengingat petuah-petuah bijak emak yang lainnya. Setakat itu, keindahan-keindahan masa lalu dan kepedihan-kepedihan kabar kematian emak berkecambuk dalam ragaku. Ia bermain-main dalam benakku. Menerobos pintu-pintu ingatan ketika kecil bersama Emak. Pergi menoreh dalam gendongannya. Menikmati senandung emak ketika berangkat tidur. Mendengar dongeng Si Bungsu yang selalu diceritakannya menjelang tidur sambil bergelayut manja dalam dekapannya.

Aku juga ingat bagaimana emak menumpaskan kemarahannya ketika kijang-kijang kecilnya berbuat ulah. Ketika kijang-kijangnya malas pergi menoreh. Ketika kijang-kijangnya tidak mendengar petuah bijaknya. Saat kijang-kijangnya mengabaikan perintahnya. Emak mencubit. Kadang menjewer. Lebih banyak emak mengoceh saja ketika ia diliputi amarah karena kijang-kijangnya enggan bekerja.

Aku bawa perempuan kecilku agar ia tahu emak sudah berangkat. Vanessa, malaikat kecilku, belum mengerti kenapa pulang kampung malam hari. Ia hanya manut saja kala diajak pulang kampung. Tak ada gurat kesedihan. Vanessa hanya tersenyum saja. Pulang kampung menjadi bagian turne terindah baginya. Karena ia merindukan suasana kampung yang asri, damai, dan menyejukan. Vanessaku baru lima tahun, kala nenek berangkat ke dimensi lain.

Aku tiba di pesemayaman emak pukul delapan pagi hari Jumat, 28 Mei 2011. Sembilan perjalanan pulang kulalui tanpa tidur. Kulawan letih untuk bertemu Emak yang terakhir kalinya. Kucatat perjalanan pulang kali ini yang terbaik dalam sepanjang sejarah pulang kampungku. Kutulis dalam catatan hidup, kali terakhir pertemuan dengan emak menjadi satu realita hidup. Kendati tidak menggembirakan, tapi pertemuan terakhir itu harus tercatat. Bukan untuk sebuah kejemawaan, tetapi untuk kenangan hidup. Itu menunjukkan aku memiliki emak yang luar biasa. Ia menjalani hidupnya hingga 85 tahun.

Kutemui emak sudah terbujur kaku dengan balutan kain putih. Saudaraku yang lain juga sudah berdatangan. Kuambil kafan empat meter untuk menyelimuti emak. Kupandangi wajahnya. Teduh dibaluti senyum. Ah, emak belum meninggal. Ia hanya tidur panjang. Kurangkai sebait doa untuk mengingatkan bahwa apa yang Tuhan sediakan, akan Ia ambil kembali. Karena hidup hanya diamanahkan, setelah itu akan dikembalikan kepada yang berhak: Tuhan.

Kulampiaskan kerinduanku dengan memandangi wajah emak. Aku tak menemukan penyesalan dalam guratan wajahnya. Aku tak menemukan kesedihan di setiap sisi lekuk wajahnya. Aku menemukan kedamaian, kesejukan, dan keteduhan. Aku menemukan keikhlasan dalam tidur panjang itu. Aku sedih sekaligus gembira. Sedih karena harus berpisah dengan emak untuk selama-lamanya. Gembira karena emak berangkat dengan keikhlasannya dan ketulusan.

Para penduka berdatangan. Tidak ada karangan bunga, juga tidak ada tembakan salvo. Para penduka itu datang dengan keikhlasan. Mereka datang tidak sekadar menyampaikan belasungkawa. Mereka datang untuk membantu. Ada yang memasak, mencari kayu bakar, membuat peti mati, hingga hal terkecil sekalipun. Emak di mata para penduka adalah seorang perempuan tua yang dihormati. Walau ia tidak punya sejarah sebagai seorang punggawa desa. Sebagai orangtua, ia banyak diminta petuah bijak oleh orang muda. Apalagi emak setia sampai akhir hayat dengan mencintai sakralitas perkawinannya, yang tidak tercatat dalam administrasi kependudukan republik ini.

Ah, terlalu banyak catatan hidup emak yang perlu ditulis. Tapi aku hanya menulis sedikit saja. Nanti akan kusambung lagi kisah emak lainnya. Yang pasti, emak sudah berangkat menjalani hidup ke dimensi lainnya. Semoga emak tenang. Selamat jalan emak. Inilah hidup. Selalu ada akhir ceritanya. Dan, emak sudah mengakhiri cerita itu. Suatu hari ini, anakmu juga akan mengakhiri cerita hidup. (*)

7 komentar:

Alexander Mering said...
This comment has been removed by the author.
Alexander Mering said...

Bud, Aku cuma bisa mengucapkan Takziah sedalam2nya. Aku tak punya bahasa untuk kepulangan seseorang yang kita cinta, aku hanya bisa mencatatnya dengan sederhana di www.mering.web.id, untuk membacanya sila klik http://tinyurl.com/3qbunls

Asep Haryono said...

Kami sekeluarga turut berduka cita atas berpulangnya emak. Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah, dan semangat dalam kehidupan ini. Cepat atau lambat, kita semua akan kembali kepada TUHAN YANG MAHA ESA.

oknum said...

mengharukan. semoga tabah

Severianus Endi said...

turut mendoakan kebahagiaan beliau di alam sana.

http://www.domu-ambarita.blogspot.com said...

nokap, emak, ibu, emak, inang atau apa pun sebutannya memang mempunyai 1001 kisah, bahkan misteri. maka berbahagialah anak yang sempat berbakti pada ibunya, karena dia telah mendapatkan sorga

Selamat jalan emak, semoga duduk di dekat Tuhan. Dan semoga keluarga yang ditinggal, teritimewa Budi Miank ditabahkan.

YENI NURLINA said...

Pengakuan tulus dari IBU YENI,NURLINA TKI Yang kerja di disingapore.
Saya mau mengucapkan terima ksih yg tidak terhingga, serta penghargaan & rasa kagum yg setinggi-tingginya kepada MBAH RORO, saya sudah kerja sebagai TKI selama 9 tahun disingapore,dengan gaji lebih kurang 2.5jt/bln,tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,apalagi setiap bulan harus mengirim orang tua di majalengka, sudah lama saya mengetahui roomnya om ini, juga sudah lama mendengar nama besar MBAH,tapi saya termasuk orang yangg tidak terlalu percaya dengan hal ghoib, jadi saya pikir ini pasti kerjaan orang iseng yang mau menipu.
tetapi kemarin waktu pengeluaran , saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsang,angka yg diberi MBAH RORO ternyata tembus, awalnya saya coba2 menelpon, saya bilang saya TKI Yang kerja di singapore mau pulang tidak ada ongkos, terus beliau bantu kasih angka . mulanya saya tdk percaya,mana mungkin angka ini keluar, tapi dengan penuh pengharapan saya pasangin kali 100 lembar, sisa gaji bulan april, ternyata berhasil….!!!
dapat BLT 200jt, sekali lagi terima kasih banyak MBAH RORO, saya sudah kapok kerja jadi TKI, rencana senin depan mau pulang aja ke PALEMBANG.buat MBAH,saya tidak akan lupa bantuan dan budi baik MBAH.
yang ingin merubah
nasib seperti saya silahkan hub MBAH RORO di no. 0853,9453,7578 ATAU

WEBSITe _RORO{ :> http://wwwprediksimbahjenggo.webs.com }

Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.
IBU YENI tki.
MAKASIH OM ROOMNYA










Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code