Sunday, January 3, 2010

Gitu Aja Kok Repot Mangkat

Saya memasang bendera setengah tiang di depan rumah. Bukan sekedar ikut imbauan SBY terkait mangkatnya Gus Dur, yang pernah memimpin bangsa ini selama dua tahun. Lebih dari itu: saya mengagumi Gus Dur karena sikapnya yang mencintai pluralisme.

Wajah Indonesia berubah saat Gus Dur jadi presiden. Orang Tionghoa sangat merasakannya. Pencabutan Tap MPR tentang SBKRI, pengakuan Imlek dan Cap Goh Meh, menjadikan Konghucu sebagai agama yang diakui, tentu beragam kebijakan lain yang mengedepankan pluralisme.

Sebagai seorang jurnalis, saya belum pernah sekalipun bertemu Gus Dur. Ketika datang ke Pontianak, saya tak punya kesempatan untuk bertemu langsung. Saya tidak mendapat tugas meliputnya.

Tetapi, saya mengikuti pemikiran-pemikiran Gus Dur dalam statemennya di media massa. Ia menjadi sosok yang kontroversi, fenomenal, dan berbudaya. Gus Dur begitu memesona. Intelektualitasnya sungguh teruji. Keimanannya teguh di tengah sifat pluralis itu.

Wajar jika orang menyebutnya guru bangsa. Waras juga bila orang-orang mengusulkan Gus Dur sebagai pahlawan. Tak aneh, jika Gus Dur disebut pluralis sejati. Ia sungguh memiliki kompetensi untuk itu. Sikapnya yang menghargai perbedaan menjadi panutan banyak orang.

Ahmad Dani, pentolan grup band Dewa, bahkan menyebut Gus Dur sebagai presiden terbaik setelah Bung Karno. Sebagai presiden Gus Dur memang tak punya proyek fisik yang fenomenal. Tapi 'proyek' cinta keberagaman membuat reformasi di Indonesia benar-benar ada. Reformasi tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Reformasi dari diskriminasi terhadap kaum minoritas di republik ini. Sungguh Gus Dur telah membuka ruang dialog antaragama yang paripurna.

''Kita kehilangan tokoh besar dialog antaragama, toleransi, dan pluralisme yang memperjuangkan kedamaian atau kebersamaan pertama-tama sebagai bangsa Indonesia,'' kata Pastor Johannes Robini Marianto OP.

Robini pernah bertemu Gus Dur selama dua jam. Baginya pertemuan dua jam itu sangat berarti. Dialog yang membuka mata semua orang arti sebuah pluralisme. Gus Dur sudah membuktikannya.

Kini, Gus Dur sudah mangkat pada 30 Desember 2009 sekitar pukul 18.45 di Jakarta. Gus Dur memang tak sempat merayakan pergantian tahun. Ia pergi meninggalkan pluralisme di Indonesia.

Gus Dur pergi tanpa membuat kita repot menerima perlakuan diskiriminasi oleh sesama manusia. Ia berangkat menuju istana abadinya meninggalkan anugerah bagi kaum minoritas.

Gus Dur telah mangkat. Gitu aja kok repot telah menjadi keabadian. (*)

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code