Thursday, February 12, 2009

Mencari Tuhan

Pernahkah Anda membaca riwayat Santo Agustinus? Atau pernahkah Anda menonton film ‘Para Pencari Tuhan’. Jika belum, ada baiknya Anda segera menjelajahi dunia maya dengan bertanya pada tuan google. Atau Anda segera pergi menemui penjual video cassette disk untuk membeli film besutan Deddy Mizwar tersebut.

Bagi orang Katolik, seperti saya, Santo Agustinus sangat dihormati. Saya sudah dikenalkan pada seorang Santo Agustinus sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia begitu terkenal sehingga kami yang masih belia pun harus mengenalnya.

Banyak cerita tentang Santo Agustinus. Saya hanya menerima satu dari sekian banyak cerita itu. Pembimbing saya ketika masih SMP hanya bercerita bagaimana Agustinus mencari Tuhan.

Tadi pagi, saya teringat kembali cerita guru pada 15 tahun lalu itu. Saya mencoba mengingat-ingat. Tapi tidak juga kunjung ingat. Saya kemudian teringat ada tuan google yang bisa jadi tempat bertanya. Begitu google saya jelajahi, hasilnya sungguh luar biasa. Ada sekitar 110.000 hasil telusur untuk Santo Agustinus dengan durasi selama 0.09 detik.

Lalu saya telusuri satu film berjudul, “Para Pencari Tuhan”. Ada sekitar 146.000 hasil telusur dengan durasi selama 0.08 detik. Para Pencari Tuhan adalah sinetron kuis Ramadhan berdurasi 1,5 jam. Sinetron ini ditayangkan oleh SCTV, diproduksi PT Demi Gisela Citra Sinema. Skenarionya ditulis Wahyu HS dan disutradarai oleh Deddy Mizwar dan Kiki ZKR.

Santo Agustinus dan Para Pencari Tuhan memberi satu pelajaran bagi manusia. Pelajaran yang membuat manusia tidak serta merta mencari fisik Tuhan. Sebab Tuhan tidak hadir dalam bentuk fisik seperti halnya mahluk yang diciptakan-Nya. Tuhan hadir dalam diri setiap mahluk yang dicipta-Nya.
Santo Agustinus yang dilahirkan pada tanggal 13 November 354 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara. Ayahnya bernama Patrisius, seorang kafir. Ibunya St. Monika, seorang Kristen yang saleh. Sementara Para Pencari Tuhan bercerita tentang kehidupan seorang penjaga mushaladan ketiga muridnya yang mantan narapidana.

Ada legenda yang terkenal seorang Santo Agustinus. Kisah inilah yang diceritakan guru ketika saya masih SMP. Cerita ini begitu membekas hingga saya ingin mencarinya dengan menjelajahi dunia maya.

Suatu hari, Santo Agustinus bertemu dengan seorang anak kecil di tepi pantai. Saat itu Ia sedang berusaha memahami misteri Trinitas ketika dilihatnya seorang anak kecil sedang berusaha memasukkan air laut ke dalam lubang kecil yang digali anak itu di tepi pantai. Agustinus menertawai anak itu karena usaha yang dilakukan anak itu adalah sia-sia belaka. Tetapi, anak itu malah menjawab bahwa usaha seorang manusia untuk memahami Allah adalah juga sia-sia belaka. Barulah Agustinus terbuka matanya bahwa anak kecil itu adalah Tuhan Yesus sendiri.

Lantas mengapa manusia mencari Tuhan? Tuhan adalah jawab dari semua hal. Persoalan akan selesai jika manusia pasrahkan diri kepada Tuhan. Tentu saja Tuhan tidak menjawab, seperti seorang ayah mengabulkan permintaan anaknya yang ingin membeli es krim. Tuhan juga tidak menjawab pertanyaan, seperti halnya seorang murid bertanya pada gurunya.

Tuhan menjawab permintaan, mengabulkan permohonan, dan mengiyakan doa, dengan cara lain. Cara yang tanpa disadari oleh manusia. Cara yang jauh dari nalar dan logika manusia. (*)

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code