Monday, September 22, 2008

Matuk

Sejak keluar dari asrama pada 2005 awal, saya tidak pernah lagi berkunjung ke sana. Tapi tiba-tiba dua hari lalu saya sangat ingin kembali. Ada perasaan rindu melihat suasana asrama itu kini. Sebuah keinginan yang harus saya wujudkan.

Tapi saya kaget begitu sampai di asrama. Perubahan drastis terjadi. Tak ada lagi pohon durian yang dulu tempat kami bersantai. Yang kalau berbuah, selalu kami tunggu jatuhnya. Tempat pohon itu berdiri sudah berdiri bangunan bercat putih.

Kekagetan saya bertambah. Sudah banyak pohon rambutan yang ditebang. Padahal itu salah satu sumber makanan kami. Kalau berbuah, banyak di antara kami yang tidak perlu makan nasi. Cukuplah makan buah rambutan sepulang kuliah. Wajar saja karena duit kiriman dari kampung tak pernah cukup.

Yang paling mengagetkan saya, tak ada lagi pohon jambu bol yang berdiri tegak sebelum memasuki komplek. Dulu pohon itu, jadi arena nongkrong anak-anak asrama. Di tempat itulah, kami bernyanyi, berdiskusi banyak hal. Mulai dari tugas-tugas dari kampus hingga persoalan yang dihadapi di asrama. Tapi yang paling utama adalah matuk.

Oleh kami, pohon itu diberi nama Pohon Matuk. Agak aneh. Banyak orang yang datang ke asrama bingung. “Kok, pohon diberi nama matuk. Maksudnya apa?” Apa sih keistimewaan pohon itu? Sehingga harus diberi nama matuk?

Beragam tafsir muncul. Ada yang bilang matuk itu ‘mahasiswa ngantuk’. Ada juga yang bilang ‘makan tidur untuk kuliah’. Ada juga yang bilang ‘mahasiswa terkutuk’. Tentu saja ketiganya bukan arti sebenarnya terhadap matuk.

Matuk muncul karena ada kebiasaan bagi anak-anak asrama. Tidak ada kata matuk dalam kamus bahasa indonesia. Yang ada patuk. Bagi kami tak penting arti harafiah dari matuk atau patuk. Yang penting kami memahami makna matuk itu sendiri. Karena matuk sudah bagian dari kreativitas anak muda dalam membuat istilahnya sendiri.

Banyak makna dari matuk. Memang ada kebiasaan bagi kami untuk duduk-duduk, minum-minuman keras. Sebutlah arak, tuak, lonang, bir, dan sejenisnya. Tak jarang, sampai mabuk. Tapi sampai sekarang belum ada cerita alumni asrama itu meninggal karena minuman keras. Justru banyak yang berhasil. Bahkan ada yang menjadi kepala daerah. Mantapkan?

Lalu apa makna dari matuk? Ketika digulirkan sebuah buletin, kami menamainya dengan suara matuk. Mengapa begitu? Inilah bagian dari mahasiswa tinjauan ulasan dan kreativitas. Di sinilah, kreativitas menulis anak-anak asrama dilatih. Saya pernah menjadi salah satu pengelola suara matuk itu. Era saya berakhir, buletin itu pun ikutan tamat.

Matuk memang luar biasa memacu kreativitas kami dalam menulis. Banyak di antara pengelolanya yang menjadi jurnalis. Termasuklah saya. Pantaslah saya bersyukur karena ada sedikit ilmu menulis ketika mengelola suara matuk.

2 komentar:

oyencadebidoih said...

Hallo Bos, foto MATUK lainnya ntar nyusul, masih pilih-pilih(banyak yang rusak)Bgmna keadaan Asrama KITE sekarang? Kapan Talang-Talang lagi? Salam.

budi miank said...

aku juga sudah lama ndak ke sana. kata anak-anak, asrama kite dah kayak seminari jak. ada jam belajar, jam menerima tamu. yah, udah kayak seminarilah. mungkin dididik untuk jadi bruder semua kali ya?

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code