Thursday, June 9, 2011

Langkah Pedagi

Senja baru saja datang. Tak ada semburat jingga di ufuk barat. Gerimis melarang senja mengeluarkan semburatnya. Di bawah kaki Poteng, hujan yang datang bersama angin melahirkan dingin.

Cekikikan Pedagi bersaing bersama derasnya hujan. Teriakan Vanessa ikut menambah keriuhan di rumah berdinding papan beratap rumbia itu. Dengkuran si bleki ikut nimbrung, hingga gaduh ruang cerita kami. Ah, semua itu melahirkan keceriaan.

Akhir pekan ini Aku bertemu Pedagi dan Vanessa. Tak ada yang berubah. Mereka masih seperti yang dulu. Masih tetap ceria. Tetap tersenyum kepada pagi dan hari.

Pedagi mulai melangkah satu dua, lalu jatuh, dan bangun lagi, kemudian berjalan lagi. Begitu terus hingga ia merasa letih. Vanessa tak henti memberi semangat sambil berteriak-teriak hingga urat lehernya timbul. Ah, hidup dua malaikat kecilku sungguh menyenangkan.

Teruslah berjalan Pedagiku. Nikmatilah setiap gerak kakimu. Jelajahi indahnya kehidupan ini. Gapailah apa yang seharusnya kau gapai. Raihlah apa yang layak kau raih. Jangan kau lepas jika sudah dapat. Pegangalah sampai hari tak lagi mengizinmu menggenggamnya.

Teruslah berteriak Vanessaku. Semangatilah adikmu, Pedagi agar kau ada teman merayakan kemenangannya. Bertepuklah Vanessa agar riuh ruang berdinding papan itu. Melompatlah dengan girang hingga tak ada ruang kosong yang terdiam. Aku dan ibumu tetap tersenyum. Aku dan ibumu tetap tertawa menikmati kegirangan kalian.

Jangan pernah bosan melangkahkan kaki-kaki mungilmu Pedagiku. Jangan pernah bosan meneriakkan suara-suaramu dengan harmoni tanpa nada itu Vanessaku. Teruslah berjuang malaikat kecilku. Lihatlah cahaya kecil di ujung jalan itu. Jaga cahaya itu jangan sampai padam. Cahaya itulah yang akan menuntunmu hingga akhir usiamu.

Senja terus merapat. Hujan juga belum berhenti. Angin bertiup perlahan menggoyangkan ujung daun. Satu titik air jatuh membasahi rerumputan. Rumput mendongak, "terima kasih hujan. Tetesanmu menyegarkan. Kami akan terus menunggumu hingga kau bisa lagi menetes."


1 komentar:

YENI NURLINA said...

Pengakuan tulus dari IBU YENI,NURLINA TKI Yang kerja di disingapore.
Saya mau mengucapkan terima ksih yg tidak terhingga, serta penghargaan & rasa kagum yg setinggi-tingginya kepada MBAH RORO, saya sudah kerja sebagai TKI selama 9 tahun disingapore,dengan gaji lebih kurang 2.5jt/bln,tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,apalagi setiap bulan harus mengirim orang tua di majalengka, sudah lama saya mengetahui roomnya om ini, juga sudah lama mendengar nama besar MBAH,tapi saya termasuk orang yangg tidak terlalu percaya dengan hal ghoib, jadi saya pikir ini pasti kerjaan orang iseng yang mau menipu.
tetapi kemarin waktu pengeluaran , saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsang,angka yg diberi MBAH RORO ternyata tembus, awalnya saya coba2 menelpon, saya bilang saya TKI Yang kerja di singapore mau pulang tidak ada ongkos, terus beliau bantu kasih angka . mulanya saya tdk percaya,mana mungkin angka ini keluar, tapi dengan penuh pengharapan saya pasangin kali 100 lembar, sisa gaji bulan april, ternyata berhasil….!!!
dapat BLT 200jt, sekali lagi terima kasih banyak MBAH RORO, saya sudah kapok kerja jadi TKI, rencana senin depan mau pulang aja ke PALEMBANG.buat MBAH,saya tidak akan lupa bantuan dan budi baik MBAH.
yang ingin merubah
nasib seperti saya silahkan hub MBAH RORO di no. 0853,9453,7578 ATAU

WEBSITe _RORO{ :> http://wwwprediksimbahjenggo.webs.com }

Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.
IBU YENI tki.
MAKASIH OM ROOMNYA










Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code