Sunday, August 30, 2009

Spongebob Vanessa

Vanessa menggambar spongebob. Serial kartun yang ditayangkan tiap pagi itu jadi tontonan wajibnya. Apalagi kalau mau berangkat ke sekolahnya di Taman Bermain Kartini milik Suster Misi Fransiskus St. Antonius.

Ia begitu bersemangat untuk belajar sambil bermain di sekolah tersebut. Bangun selalu pagi. Saat libur pun ia minta diantar pergi sekolah. Sebuah harapan yang indah jika untuk masa depan.

Mula-mula Vanessa menarik garis tegak lurus. Kemudian satu garis mendatar yang ujung kirinya bertemu dengan bagian atas garis lurus tadi. Setelah itu Vanessa menarik satu garis lurus lagi yang diletakan di sisi kanan bukunya. Ia mengakhiri bentuk persegi panjangnya, dengan satu tarikan garis mendatar di bawah.

Dua lingkaran kecil dibuatnya di bagian atas persegi panjang itu. Satu garis seperti huruf L sedikit melengkung dibuat di antara dua lingkaran. Satu bulan sabit dengan garis mendatar menghubungkan kelengkungannya.

Gambar apa? “Ini gambar spongebob.”

Vanessa baru berusia empat tahun. Ia lahir pada 2005 ketika subuh baru tiba. Lima belas menit setelah lahir, hujan mengguyur kediamannya. Sebuah anugerah di hari kelahirannya.

Gadis kecil itu kemudian mengambil crayon. Satu warna diraihnya. Tangan mungilnya mulai mencoret. Mewarnai kotak persegi panjang yang dibuatnya. Tidak beraturan. Sesuka hatinya.

Kok dicoret-coret? “Ndak apalah. Biar cantik.”

Sejak usia dua tahun, Vanessa sudah pandai mencoret. Dinding-dinding ruang keluarga penuh grafiti yang tak bermakna. Diwarnai dengan kombinasi yang sangat tidak menarik. Coretan tangan khas keinginan seorang anak kecil.

Grafiti dinding Vanessa tetap berlanjut. Bahkan hingga usianya empat tahun sekarang ini. Grafiti yang sekarang lebih bermakna karena berupa huruf dan angka hingga gambar-gambar kartun yang disukainya. Ya itu tadi, spongebob.

Ketika ulangtahun kemerdekaan tahun 2009, Vanessa ikut lomba mewarnai tingkat kompleknya. Ia juara dua. Hadiahnya hanya buku dan seperangkat alat untuk coret-coret lagi. Ia juga ikut lomba kecepatan dan ketepatan menyusun puzzle. Lagi-lagi ia juara dua. Ia tidak bisa cepat, tapi hati-hati. “Hanya kalah cepat.”

Vanessa tetap menggambar spongebob. (*)

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code