Sunday, December 21, 2008

Aku Ingin Anakku Sekolah

Hari ibu kembali tiba. Kaum ibu belum terbebas dari beragam persoalan. Ada yang menjadi korban eksploitasi. Terkadang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Ada juga yang harus menafkahi keluarga. Mereka berjuang untuk keluar dari ketertindasan. Bagaimana perjuangan seorang ibu yang harus menjadi kepala keluarga?

Cita-cita Buntat hanya sederhana. Ia ingin empat anaknya berpendidikan cukup. Kerja serabutan dilakoninya. Kadang menjadi orang upahan di sawah milik tetangga. Satu hari menjadi pembantu rumah tangga. Lain waktu kerja lain lagi.

Buntat tinggal di Kampung Arang Limbung, Kubu Raya. Seorang janda berusia 43 tahun yang memiliki empat anak. Suaminya memilih perempuan lain ketika putri bungsunya, Anggita berusia 40 hari. Tiga anaknya sudah mengenyam bangku sekolah. Putri sulungnya, Agustina sudah kelas tiga sekolah menengah.

“Ada tiga perinduk di rumah ini,” kata Buntat.

Dalam bahasa Melayu, tiga perinduk sama artinya dengan tiga kepala keluarga. Ada sebelas jiwa dalam rumah kecil di ujung gang itu. Walau begitu, penghuni rumah tetap harmonis. “Mau bagaimana lagi. Beginilah kami. Mau bangun rumah sendiri, tidak mampu. Ini juga masih menumpang,” Buntat menggendong satu keponakannya.

Rumah Buntat berada di pinggiran Sungai Kapuas. Tak ada halaman. Tanahnya ngepas buat bangun rumah. Ada satu jalan kecil bersemen untuk masuk. Kiri kanan jalan masuk barisan kain-kain jemuran menggantung. Ada pagar kayu yang membatasi jalan itu. Dalam pagar, ada beberapa batu nisan khas orang muslim.

Ketika suaminya memilih perempuan lain, Buntat ingin bunuh diri. Ia juga ingin bekerja sebagai tenaga kerja di Malaysia. Sepekan sebelum berangkat, Mawardiansyah, putra keduanya, kecelakaan yang membuat kaki kirinya patah. Buntat tak meninggalkan anaknya. Niatnya sebagai tekawe buyar.

Pertemuannya dengan Kholilah membawa warna baru baginya. Semangat dan ketegaran tumbuh. Perubahan terjadi dalam dirinya. Buntat menjadi perempuan yang berani menerima realitas kehidupan.

“Saya harus menghadapinya,” begitu tekadnya.

Kholilah adalah seorang pendamping lapang dari Perempuan Kepala Keluarga. Satu organisasi yang bekerja untuk perempuan miskin karena berbagai alasan berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggungjawab mencari nafkah bagi keluarganya. Di Kalimantan Barat ada tiga pendamping lapang. Mereka telah mengadvokasi sekitar 500 perempuan sejak 2003.

“Butuh waktu paling sedikit tiga bulan untuk mengubah pola pikir mereka. Dari tertutup dengan masalah-masalahnya menjadi lebih terbuka. Tiga bulan itu pun hanya mau berkumpul-kumpul saja,” kata Kholilah.

Kholilah juga seorang perempuan. Ia tidak menyerah untuk mengubah pola pikir perempuan-perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Kholilah bilang perempuan yang didampinginya berasal dari beragam persoalan. Ada yang ditinggal mati suami, ditinggal kawin lagi, hingga korban kerusuhan sosial beberapa tahun silam.

“Kami ingin seorang ibu, seorang perempuan lebih kuat menjalani hidup. Jangan sampai mereka putus asa. Masih ada harapan untuk menjalani sisa hidup. Inilah yang kami lakukan,” kata Kholilah.

Buntat adalah satu perempuan yang didampingi Kholilah. Perempuan tegar yang ingin anak-anak tetap sekolah. “Saya tak ingin mereka seperti saya. Saya mau mereka lebih pintar,” kata Buntat. (*)

2 komentar:

tunabdulrazak said...

That is our dreams as parents: for all our children to graduate from university.

tunabdulrazak said...

That is our dreams as parents: for all our children to graduate from university.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code