Saturday, August 25, 2007

Protes Republik

Setiap peringatan ulangtahun kemerdekaan Republik Indonesia, kita selalu mengibarkan merah putih di halaman rumah. Pengibaran merah putih sebagai bentuk nasionalisme rakyat. Terutama mengenang jasa pahlawan yang susah payah merebut kemerdekaan dari penjajah.

Tetapi tidak semua rakyat mengibarkan merah putih. Beragam alasan. Mulai tidak punya bendera hingga sikap apatis terhadap kemerdekaan. “Ini sebagai bentuk protes terhadap republik yang hanya membangun Jakarta dan sekitarnya,” kata Dhie, seorang warga yang tinggal di Kota Baru, Pontianak.

Saya kaget mendengar jawabnya. “Kami yang tinggal di Kalimantan belum merdeka. Jakarta telah membuat kami jauh tertinggal. Kami tidak punya jalan yang bagus, listrik yang menyala terus, air bersih yang mengalir tiada henti,” lanjutnya.

Dhie, seorang tukang sapu pada sebuah kantor pemerintah. Ia tahu betul ‘tebiat’ para penguasa, termasuk di kantornya. “Mereka hanya mementingkan diri sendiri,” protesnya.

Meski hanya tukang sapu, Dhie paham soal demokrasi. Ia banyak belajar dari para politisi dan membaca banyak buku. Tapi Dhie tidak bisa seperti politisi itu yang enak-enak duduk di kursi empuk. Dhie hanya tamat sekolah dasar. “Tidak ada duit,” singkat Dhie.

Sikap Dhie berbeda dengan tetangganya, Noel. Noel yang prajurit TNI memasang bendera di halaman rumahnya. “Ini tandanya kita masih memiliki rasa nasionalisme,” kata Noel.

Noel tidak mengecam Dhie yang tidak memasang bendera. “Itu haknya,” ujar Noel. Yang penting, bagi Noel, rasa keindonesiaan Dhie tidak boleh hilang. Ia boleh tida percaya kepada pemerintah, tapi Dhie tidak bisa mungkir kalau ia lahir di tanah Indonesia.

Namun nasionalisme dengan memasang bendera di halaman rumah dibantah Dhie. “Apakah sikap nasionalisme itu bisa diukur dengan memasang bendera? Banyak orang yang memasang bendera, tapi ia seorang koruptor, pembunuh, penjual tanah di perbatasan,” seru Dhie.

Coba lihat di Aceh, ramai-ramai menurunkan bendera. Lihat di perbatasan. Mereka tidak menaikan bendera? Apa mereka sudah kehilangan nasionalismenya. Jangan-jangan kita yang di perkotaan yang sudah tidak nasionalis lagi. Jangan-jangan mereka yang mengibarkan bendera, justru nasionalisnya sangat dangkal.

Apa masih layak kita berbicara soal nasionalisme? (*)

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code