Thursday, April 5, 2007

NOTONKG, TRADISI DAYAK ANGAN

Masa lalu orang Dayak tak terlepas dari tradisi mengayau. Tradisi perang antarsuku dengan cara memenggal kepala manusia. Tradisi ini sudah ditinggalkan sejak adanya perjanjian Tumbang Anoi. Sebagian orang Dayak menjadikan kepala hasil mengayau sebagai pusaka. Tetapi tidak semua kepala hasil mengayau itu menjadi keramat, yang harus diberi makan setiap tahunnya.

Di Kabupaten Landak, Kecamatan Ngabang ada Desa Angan Tembawang. Di dalamnya ada miniatur kehidupan subsuku Dayak Angan. Desa itu terletak di bagian timur Provinsi Kalimantan Barat, sekitar 200 kilometer dari ibu kota provinsi, Pontianak.


Cukup sulit menjangkau desa ini karena sarana transportasi jalan belum representatif. Bahkan beberapa jembatan penghubung juga sudah rusak. Jarak tempuh dari Kota Ngabang sekitar 30 kilometer, yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau berjalan kaki.

Desa ini memiliki tujuh dusun, yakni: Rumah Angan, Angan Bangka, Angan Tutu, Angan Landak, Angan Limau, Angan Pelanjau, dan Angan Rampan. Penduduk yang jumlahnya sekitar 500 kepala keluarga mengandalkan sektor pertanian dan perkebunan untuk penghasilan.

Kendati digerus arus modernisasi, Orang Angan meninggalkan adat istiadatnya. Upacara adat notonkg adalah salah satu warisan leluhur yang selalu diperingati ketika masa panen berakhir. Saat berpindah pun, Orang Angan selalu membawa pusaka tengkorak manusia yang diyakini menjaga seluruh penghuni kampung.

Menurut Tumenggung Benua Angan Laurensius Lamat, notonkg telah menjadi tradisi Orang Angan sejak 200 tahun silam. Namun tengkorak yang dimiliki Orang Angan bukanlah hasil bekayau, melainkan abak panggel karena menyerahkan diri untuk menjadi pusaka.

Prosesi notonkg dimulai dengan membunyikan terompet yang dianyam menggunakan daun kelapa muda. Biasanya anak-anak usia sekolah yang membunyikannya sebagai petanda menyambut tahun baru. Sebab, pagelaran notonkg diibaratkan dengan perayaan tahun baru, seusai panen. Permainan terompet ini berlangsung selama sepekan. Dihentikan ketika ritual notonkg sudah digelar.

“Kami harus berterima kasih kepada Ayupama (Tuhan, red). Sepanjang tahun kami diberkati dengan hasil panen. Abak panggel menjadi media bagi kami untuk menyampaikan rasa syukur,” kata Lamat seraya mengungkapkan notonkg digelar antara April dan Mei tiap tahunnya.

Untuk memeriahkannya, ritual notonkg dilengkapi dengan seperangkat alat musik berupa totonkg (sejenis beduk), tiga buah gong, dan enam buah kulintang. Alat musik ini akan mengiringi setiap prosesi penghormatan abak panggel. “Kalau ritual sudah dimulai atau dibuka oleh dukun kepala, permainan musik tidak boleh berhenti hingga ritual ditutup. Biasanya ritual berlangsung selama satu hari satu malam, bisa juga tiga hari tiga malam, tujuh hari tujuh malah, bahkan satu tahun,” jelas Lamat.

Prosesi notonkg melibatkan tujuh dukun. Ada satu kepala dukun. Dialah yang bertindak sebagai pemimpin. Mengenakan sengkulas mirah (sejenis syal berwarna merah) dan selendang biru, Jungki (71 tahun), dukun kepala menaiki tangga sambil melafalkan doa-doa keselamatan dalam bahasa mantra sebagai tanda minta izin kepada abak untuk restu upacara notongk. Setelah itu, abak panggel dibawa ke bilik dan diletakan di atas talam (nampan) yang telah dilengkapi dengan sesajian.

Abak diberi makan dan rokok yang diletakan di lobang hidungnya. Beberapa saat kemudian, abak dimandikan dan diberi minyak kelapa kemudian disisir seperti menyisir rambut. Prosesi berikutnya mengantar tumpang dan rancak di empat persimpangan dan satu sungai, untuk menjaga seluruh masyarakat yang menghadiri upacara adat notonkg.

Saat prosesi nkubakng berlangsung semua pengunjung tidak diperbolehkan berdiri di depan pintu masuk. Bahkan zaman dahulu, semua pengunjung yang sedang berjalan harus berhenti. Menurut kepercayaan Orang Angan, ini dilakukan untuk menghormati Ayupama (Tuhan, red) yang sedang berjalan menuju rumah penduduk. Jika ada pengunjung yang berkeliaran, maka Ayupama akan marah. Tak heran, jika ada beberapa pengunjung yang kesurupan karena menjadi pelampiasan kemarahan Ayupama.

Setelah itu, prosesi gerinting. Prosesi ini puncak dari upacara adat notonkg. Ketujuh dukun tadi melakukan tujuh kali teriu atau ngampak yang diiringi oleh bunyi totonkg tanpa henti dengan nada cepat. Ritual ini untuk memanggil nama yang punya abak, sehingga datang untuk menghadiri upacara notonkg sesuai dengan yang dipesankan.

Jumlah ngampak ditentukan oleh lamanya waktu pelaksanaan notonkg. Jika upacara notonkg dilaksanakan tiga hari tiga malam, maka ngampak-nya akan dilakukan sebanyak 21 kali. “Dulu, kampung ini pernah melakukan notonkg selama satu tahun,” kata Lamat.

Dukun pendamping yang menghitung jumlah ngampak memberi aba-aba kepada penabuh totongk. Setelah mencapai tujuh kali, maka dukun pendamping meminta para penabuh berhenti dan ngampak pun dihentikan. Usai gerinting para dukun menari totonkg.

Tarian ini untuk memberikan penghormatan kepada empunya abak sebagai sambutan ketika memasuki kampung. Tak ada pakaian khusus seperti pakaian adat umumnya Suku Dayak. Kedua penari yang juga dukun hanya mengenakan sarung yang digantung di pinggang dengan bantuan ikat pinggang terbuat dari rotan.

Besoknya, dilakukan prosesi ngantung untuk mengembalikan abak ke wuwungan. Ritual ini menandakan upacara adat notongk akan segera berakhir. Upacara ngantung diiringi oleh bunyi totongk yang mengantar abak ke wuwungan. Berakhirnya prosesi ngantung berarti selesai juga suara bunyi-bunyian. Setelah itu dukun ketua menetapkan pantang bagi penghuni kampung.

Pantang notongk mirip dengan Nyepi bagi umat beragama Hindu. Bedanya, pantang notongk diperbolehkan menghidupkan api. Namun dilarang menghidupkan generator, sepeda motor, dan berteriak-teriak sekitar kampung. Penghuni kampung juga dilarang mematahkan kayu-kayu hidup, memetik daun-daunan, juga membunuh binatang-binatang. Bahkan penduduk tidak diperkenankan menerima tamu dari kampung lain, juga tidak boleh keluar kampung. Jika keluar, maka kembalinya setelah masa pantang selesai. ”Pantang ini berlaku selama 24 jam,” kata Lamat.
Jika ada warga yang melanggar pantangan, akan dikenakan adat tanung. Adat ini merupakan hukuman yang dibebankan kepada tuan rumah. Adat tanung dibayar dengan sebuah piring, sebilah parang, sejumlah uang dan beras. Pembayaran adat tanung dilakukan di rumah pemigeng abak yang selanjutnya diserahkan kepada abak.

Menjelang sore, upacara nyeser dilakukan. Upacara ini untuk mengusir roh-roh jahat yang kerap mengganggu tanaman Orang Angan, yang diberikan berupa sesajian. “Mereka kita minta segera bergeser, sehingga seluruh Orang Angan tidak terkena pengaruh roh jahat tersebut,” kata Lamat. Prosesi nyeser dilakukan di ma mbansa, daerah aliran Sungai Rentawan yang jaraknya sekitar dua kilometer dari Desa Angan Tembawang. Usai nyeser maka pantangan pun berlaku. (*)

3 komentar:

Andreas Harsono said...

Dear Budi,

Ini menyusul permintaan kamu agar aku kasih komentar terhadap blog ini. Aku sudah baca. Menarik sekali. Soal tradisi Dayak Angan. Usulan teknis. Lebih baik tak usah rata kanan. Agak susah membacanya di layak komputer yang memang tak senyaman di kertas, buku atau papan. Kolomnya juga cukup lebar sehingga susah saat pindahan pandangan mata.

Suwardi Unggit said...

sekarang jalannya sudah bagus siapkan saja mobilnya, kerena tidak ada mobil umum yang lewat tempat itu untuk sekarang dan saat ini... ^_^

declabu said...

ulasan tentang tradisi notongk dayak Angannya bagus sekali...

izin share sedikit ya buat blog saya..
protomalayans.blogspot.com

salam kenal

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code