Wednesday, March 28, 2012

Earth Hour, Belajarlah pada Angan Tembawang


Besok malam, selama satu jam sedari pukul 20.30 hingga 21.30 pada 31 Maret 2012, umat manusia di dunia diajak untuk mematikan lampu. Kampanye yang diberi nama Earth Hour 60+ itu mengajak semua orang untuk mengurangi emisi karbon. Kampanyenya sudah dimulai sejak tiga pekan lalu. Katanya sih untuk menyelamatkan bumi.

Tak heran, kalau orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai orang yang peduli lingkungan begitu gigih mengkampanyekan program ini, terutama kepada masyarakat perkotaan.

Aktivis, pejabat pemerintah, hingga media massa juga diajak ikut berkampanye program dengan slogan, "Ini Aksiku, Mana Aksimu" itu. Bahkan, status di jejaring sosial semacam fesbuk dan twitter pun turut jadi media untuk kampanyenya.

Ajakan mematikan lampu selama satu jam ini tak berlaku bagi orang kampung, seperti Angan Tembawang. Hingga 2012, kampung yang berpenduduk hampir 700 orang itu, belum dialiri listrik. Sebuah ironi negeri yang telah merdeka sejak 67 tahun silam. Sebuah ketidakadilan pembangunan yang hanya mementingkan kawasan perkotaan saja. Sebuah keterbelakangan yang disengaja karena dianggap tidak memberikan keuntungan secara ekonomi.

Di Angan Tembawang, Earth Hour sudah berlangsung sejak kampung itu ada. Orang-orang kota harus belajar pada Angan Tembawang tentang tata cara menghemat energi. Para aktivis lingkungan harus melihat orang Angan Tembawang dalam berkampanye menyelamatkan bumi. Kalau hanya sekadar mengurangi emisi karbon dari lampu, orang Angan Tembawang sudah melakukannya sejak lama.

Di era lapisan ozone yang kian menipis ini, banyak orang berlomba-lomba menyelamatkan bumi. Di era gejala perubahan iklim (climate change) mendunia, orang-orang berebut untuk memperlambat perubahannya. Kampanye Earth Hour juga menjadi salah satu cara untuk memperlambat terjadinya perubahan iklim itu. Nah, orang Angan Tembawang sudah melakukan ini sejak lama.

Orang-orang Angan Tembawang selalu menjaga alam dan hutan. Sungai-sungai tetap mengalir dengan debit yang tak berubah sepanjang tahun. Udara tetap segar walau hujan tak turun barang satu bulan. Tengah hari tetap mendatangkan kesejukan kendati matahari membakar bumi. Bahkan, saat matahari berada pada titik nol, titik khatulistiwa, Angan Tembawang tetap menghadirkan kesejukan.

Namun Angan Tembawang tak selamanya sejuk. Program pembangunan belum menyentuh kampung yang ada di Kabupaten Landak itu. Kalaupun ada, belum seperti orang-orang kota. Tak ada sinyal handphone, padahal era sudah memasuki teknologi informasi. Jangan berharap ada kedipan lampu pada malam hari. Sebab belum ada satupun tiang listrik di desa yang terdiri atas tujuh kampung itu. Tak usah berharap bisa berobat dengan cepat, sebab hingga kini tak satupun tenaga medis yang mau bertugas di Angan Tembawang.

Hanya satu pesan dari Angan Tembawang. "Kalau mau menyelamatkan bumi dengan mematikan lampu selama satu jam di perkotaan, mari belajar pada kami yang setiap hari beraksi mengurangi emisi karbon." (*)

2 komentar:

Asep Haryono said...

Sunggu suatu artikel yang sangat menyentil rasa keadilan poembangunan di negeri yang porak poranda oleh maraknya kasus korupsi.

Saya jadi bingung mau berkata apa lagi melihat kenyataan bahwa di Angan Tembawang ternyata lebih parah kondisinya dibandingkan daerah Kubu yang notabene masih kabupaten Kubu Raya itu.

Saya salut dengan masyarakat Angan Tembawang yang tetap survive dan semangad didera berbagai kekurangan infrastruktur pembangunan. Pertanyaan sederhana terlintas di kepala saya, bagaimana kalaw masyarakat Angan Tembawang menyampaikan aspirasinya kepada gubernur.

Seperti kata Pak Dahlan Iskan dalam buku GANTI HATI nya itu , mengeluh itu tidak cerdas. Saya rasa masyarakat Angan Tembawang tidak mengeluh, tapi berjuang dan terus fight melawan ketidak adilan infrastruktur pembangunan. Adil memang relatif, tapi bagaimana upaya kita agar aspirasi masyarakat Angan Tembawang bisa didengar dan ditindalanjuti oleh Gubernur kita. Itu ide yang terlintas di kepala saya saat ini.

Asep Haryono
simplyasep.blogspot.com
www.asepharyono.com
myfavemuzik.blogspot.com

YENI NURLINA said...

Pengakuan tulus dari IBU YENI,NURLINA TKI Yang kerja di disingapore.
Saya mau mengucapkan terima ksih yg tidak terhingga, serta penghargaan & rasa kagum yg setinggi-tingginya kepada MBAH RORO, saya sudah kerja sebagai TKI selama 9 tahun disingapore,dengan gaji lebih kurang 2.5jt/bln,tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,apalagi setiap bulan harus mengirim orang tua di majalengka, sudah lama saya mengetahui roomnya om ini, juga sudah lama mendengar nama besar MBAH,tapi saya termasuk orang yangg tidak terlalu percaya dengan hal ghoib, jadi saya pikir ini pasti kerjaan orang iseng yang mau menipu.
tetapi kemarin waktu pengeluaran , saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsang,angka yg diberi MBAH RORO ternyata tembus, awalnya saya coba2 menelpon, saya bilang saya TKI Yang kerja di singapore mau pulang tidak ada ongkos, terus beliau bantu kasih angka . mulanya saya tdk percaya,mana mungkin angka ini keluar, tapi dengan penuh pengharapan saya pasangin kali 100 lembar, sisa gaji bulan april, ternyata berhasil….!!!
dapat BLT 200jt, sekali lagi terima kasih banyak MBAH RORO, saya sudah kapok kerja jadi TKI, rencana senin depan mau pulang aja ke PALEMBANG.buat MBAH,saya tidak akan lupa bantuan dan budi baik MBAH.
yang ingin merubah
nasib seperti saya silahkan hub MBAH RORO di no. 0853,9453,7578 ATAU

WEBSITe _RORO{ :> http://wwwprediksimbahjenggo.webs.com }

Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa.
IBU YENI tki.
MAKASIH OM ROOMNYA










Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code